Lensa Pernikahan
Entah kenapa, pernikahan bagiku saat ini adalah sesuatu yang menyeramkan. Kataku saat berada di ruang diskusi dengan mu.
Tersebab proses-proses yang telah kamu lewatikah? Kamu mulai membenarkan dudukmu, seolah kamu paham bahwa ini akan menjadi pembahasan yang serius.
Membayangkan apa-apa yang harus dibagi aku takut setengah mati. Mungkin karena sudah terbiasa apa-apa sendiri. Aku tersenyum kepadamu, kamu menatapku lekat tak lama pandangan itu beralih ke kopimu.
Tidak semua harus dibagi teh, kata mu seba'da menyeruput kopi yang tak lagi hangat. Yang menjadi rahasia sebelum kamu bertemu dengannya, biarkan ia menjadi rahasia yang tak perlu kamu ungkap. Terlebih jika itu yang membuatmu tak berani lagi berdiri didepannya. Kamu membenarkan posisi dudukmu kembali.
Tapi bagaimana jika kemudian rahasia itu justru yang ingin dia ketahui? Aku mulai menyandarkan punggungku ke kursi yang tak pernah nyaman untuk membahas hal serius.
Jelaskan dengan jujur apa yang pernah terjadi, jika ia benar memahamimu ia akan percaya padamu. Jangan pernah memandang semua masalah dari sudut ketakutanmu. Sekali-kali lihatlah masalah dari ujung keberanianmu, maka kamu akan lebih mudah menyelesaikannya. Seperti kamu yang selalu tertantang untuk melakukan hal-hal yang baru.
Jangan menjadikan ketakutan, dasar untuk kamu tidak melakukannya. Lihatlah jika kamu sudah bertemu dengannya mungkin kamu akan percaya bahwa bersama itu akan lebih bahagia tidak merubah seperti ketika kamu sendiri atau lebih dari itu.
Kamu tersenyum dan kembali menyandarkan punggungmu ke kursi itu. Kamu tau pembicaraan ini akan segera berkahir.
Diruang maya berlogo hijau dan putih itu kita berdiskusi.

Comments
Post a Comment