Menginginkan Pernikahan





Teh, ada waktu luang, bisa telepon balik? begitu mengiyakan telepon di seberang putus. 

Aku menelepon balik dengan perasaan yang tidak menentu, ada kesalahankah? tanyaku dalam hati.
Tak lama berdering, terdengarlah suara dari seseorang di seberang telepon. 

Bisa cari tempat yang tidak terjangkau dari orang lain?

Iya ustadz, berlari menuju dapur kantor. tempat ternyaman untuk menyendiri, di saat hati tak bisa di ajak kompromi, atau di saat harus menahan emosi dan untuk sementara waktu tidak bertemu orang lain. sudah ustadz.

Teh izzah udah siap nikah? katanya menanyakan dengan lugas.

InsyaAllah sudah ust, jawabku sebegitu meyakinkannya.

Jadi gini, ada seorang ikhwan yang sedang berniat untuk menikah, dan beliau mengamanahkan kepada saya untuk mencarikannya. Beliau baik akhlaknya, semangatnya tinggi untuk belajar dan terus perbaiki diri. Saat ini beliau lagi megang amanah di Kampung Tauhiid Sriwijaya, teteh siap mendampingi beliau untuk membangun pesantren? 

Suara di seberang telepon seperti timbul tenggelam, ketika beliau menanyakan kesiapan dari seorang aku yang entah kapan siapnya. Aku yang bahkan masih belum selesai dengan seseorangnya di masa lalu. Aku yang masih harus menambal banyak luka untuk sebuah hal yang baru. 

Gimana teh? katanya kembali menyadarkanku tentang pernyataan itu. 

Oh iya ustadz, hmmm insyaAllah ustadz.

Teteh udah pernah ke Kampung Tauhiid kan? katanya kembali bertanya.

InsyaAllah udah ustadz, tahun lalu. 

Mau pilih tanggal berapa untuk tuker proposalnya?

Hari jum'at ustadz, biar berkah.

Ya udah nanti saya kabari yah teh, bisa sambil disiapkan dulu proposalnya. katanya mengakhiri percakapan itu.

waalaykumsalam ustadz. aku menutupnya.

Hari itu adalah hari 4 terakhir dibulan Ramadhan beberapa hari lagi menuju 1 syawal dan 2 hari lagi saat aku harus mengirimkan proposalnya.

Inikah yang aku inginkan dari segala pinta yang aku panjatkan setiap malamnya, sebuah pernikahan dalam waktu dekat. Dan Allah benar-benar wujudkan. 

Haruskah aku kembali tarik doa-doa yang telah di panjatkan atau melanjutkan peran apa yang telah aku pinta sebelumnya.
Karena dari proses ini hanya ada dua kemungkinan aku benar-benar menikah dengannya atau ia hanya akan menjadi bagian dari cerita hidup yang aku jalani nantinya.

Comments

Karya Lainnya

Sayap Patah

Secangkir Harapan

Penerimaan