Kekhawatiran
Ada tiga huruf, alphabet dua puluh, lima dan delapan yang biasa kamu gunakan untuk menyapa. Dan dari pesan terakhir yang kamu kirimkan terhitung 58 hari 1.392 jam 83.520 menit dan 5.011.200 detik tak ada pesan lagi yang masuk ke layar flatku.
Pesan terakhir yang bernada pemberitahuan bahwa kamu telah sampai kembali kekotamu setelah pertemuan kita. Ada banyak cerita yang ingin ku urai tapi tak sampai, ada rindu yang menggebu hingga berdebu. Ada tawa yang tertahan setiap kali melihat peredaranmu di dunia maya berlogo biru putih.
Ne jadi kapan mau nikah, biar mamah bisa siap-siap, pertanyaan itu membuyarkan lamunanku. Pertanyaan yang sering kali dilontarkan setiap kali pulang ke rumah. Temen mu yang pernah maen ke rumah itu gx mau tah teh? katanya melanjutkan
InsyaAllah mah, nanti juga ada waktunya bukannya kata mamah, mamah gx mau pisah dulu sama ene? atau mamah udah gx pengen ngeliat ene sering pulang? kataku merajuk
Ya gx lah, kamu ini ngomong apa sih?
Aku tersenyum menatapnya, kekhawatiran itu begitu nampak diwajahnya.
Mah, aku masih muda, bukan juga tidak mengusahakan koq tapi pasti nanti ada waktu yang indah untuk merasakan itu semua. Sambil terus memperbaiki diri kalo aku udah siap, mamah juga siap nanti pasti Allah kasih. kataku kembali meyakinkan.
Oh ya untuk temen yang pernah maen ke rumah mamah jangan mikir aneh-aneh yah, just friend no more. Kalo mamah mikir aneh-aneh aku gx akan pernah bawa temen maen lagi ke rumah kalo gitu. kembali dengan nada merajuk
Aish kamu ini. sambil berlalu menuju dapur.
Sayang mamah.
Faham dengan kekhawatiranmu, tapi aku bersikap seperti ini bukan tidak khawatir hanya tidak ingin menambah kekhawatiran itu kepadamu. Aku ingin merasakannya sendirian dan menjalaninya setiap fase yang hadir dalam kehidupan ini.
Makasih untuk kamu yang sudi untuk mampir dalam kehidupanku semoga kamu tak menyesal.

Comments
Post a Comment