#Ramadhan7 : Menata hati dari Pujian
“Jika kalian melihat orang-orang yang suka memuji, maka tumpahkanlah debu ke mukanya” (HR. Muslim : 3002)
Ada sebuah kisah menarik tentang seekor katak yang berusaha memanjat pohon. Sepanjang usahanya memanjat katak-katak yang lain berusaha meneriaki nya dari bawah, meragukannya, menghinanya, tapi ia tidak bergeming. Ia tetap memanjat.
Sampai pada akhirnya ia hampir mendekati pucuk pohon, seluruh katak yang tadinya menghinanya, kini meneriakinya dengan dukungan, bahkan dengan kekaguman. Tetapi ia tetap diam saja, sampai ia berhasil.
Dan satu hal yang katak-katak lain tidak tahu, ternyata katak yang memanjat itu tuli. Ia tidak mendengar cacian juga pujian yang di alamatkan padanya.
Fitrahnya, manusia suka dengan pujian, ia bisa melambungkan dada, membuat berbunga-bunga. Apalagi jika pujian itu dari seseorang yang istimewa. Ah cukuplah sudah rasanya. Pujian itu telah membuatnya kenyang tanpa makan.
Begitulah kita, selalu terhanyut dengan pujian namun seolah terhina dengan celaan. Padahal apalah ia yang dengan pujian dan celaan itu takkan mempengaruhi hidup kita tanpa kehendak dari Allah.
Adalah riya, penyakit yang bisa menghapus semua amalan kita. Amalan yang tak banyak terhapuslah olehnya. Amalan yang dicari dengan susah hati tercabut sekali jadi.
Menilik sebentar tentang pribahasa “lebih baik mencegah dari pada mengobati”
Maka alangkah baiknya jika kita menjaga niat-niat kita, kebaikan-kebaikan kita atau apapun itu dibandingkan kita nanti nya harus mengobati hati-hati yang haus pujian, yang lapar sanjungan.
Lebih sulit mengobati hati yang sudah haus dengan pujian dibandingkan dengan mencegahnya.
Maka, ada saatnya untuk kita mengevaluasi diri, jangan-jangan kita sudah terjangkit penyakit riya yang selalu menanti dipuji.
Allah maha mengetahui, maka tak usah kita mengupdate apa-apa yang kemudian akan merusak niat-niat kebaikan yang akan ataupun sudah kita kerjakan. Jika kita beribadah hanya untuk Allah maka update-an kita di IG, FB, Path, atau media sosial lainnya tak berlaku karena Allah tahu tanpa harus diberitahu.
Mulailah untuk kita tidak mudah untuk melontarkan pujian dan terlena menerima pujian. Karena itu adalah bahaya yang mematikan. Saling menjaga stabilitas hati yang selalu terombang-ambing oleh derasnya jebakan syetan.
Tetaplah tenang dengan pujian, jangan terguncang karena celaan. Semoga hati-hati kita Allah kuatkan untuk hanya mengharapkan apapun itu dariNya bukan dari hambaNya.
Selamat menaklukanmu, menata hati dan menjaga keihlasan untuk sang Rabbi. 😄😄
Saya yang juga kerap kali khilaf dalam menata niat. Semoga Allah ampuni.
Allahu musta'an
7 Ramadhan 1438 H || 2 Juni 2017 M
Ainayatin

Comments
Post a Comment