#Ramadhan4 : Berhenti Sejenak
Ada sebuah kisah dua orang lelaki yang sehari-harinya bekerja memotong kayu, waktu yang mereka punya sama setiap harinya, alat yg mereka gunakan pun sama, semangatnya pun tak kalah sama di antara keduanya, namun hasil yang di dapat selalu berbeda. Hasil bapak pertama selalu lebih banyak di bandingkan dengan bapak yang kedua, lantas bapak yang kedua heran kenapa berbeda padahal waktu semangat dan alat yang mereka punya sama.
Di tengah keheranannya bapak kedua bertanya kepada bapak yg pertama, pak kita motong kayu sama setiap harinya parang kita sama, waktu untuk mengerjakan sama dan semangat pun sama tak kalah bedanya semangat saya dengan semangat bapak, tapi kenapa hasil yang bapak peroleh selalu lebih banyak setiap hari nya?
Iya pak sama semuanya waktu untuk kita memotong kayu-kayu ini sama parang yang kita miliki pun sama tidak ada yang berbeda, hanya saja saya selalu menyempatkan waktu berhenti untuk mengasah (menajamkan) parang ini dengan alat ini, sambil menunjukkan batu asah kepada bapak B,
Tapi bukannya akan lebih lama jika kita berhenti untuk mengasah parang ini? Dan akan menghabiskan waktu?
Justru dengan di asah ia akan lebih tajam sehingga kayu yang dihasilkan pun akan lebih banyak. Berhenti sebentar untuk hasil yang lebih baik. Katanya mengakhiri percakapan
Sepenggal kisah yang menarik untuk kita jadikan pembelajaran, bahwa perlu untuk kita memberikan kesempatan kepada hati untuk berkontemplasi, berhenti sejenak, merenungi apakah aktivitas kita mengarah kepada kebaikan atau keburukan. Apakah rutinitas itu hanya tentang kebermafaatan kita didunia atau kebermanfaatan orang lain juga yang akan berakhir kepada kebaikan untuk orang banyak. Atau hanya sekedar bertanya apakah yang dilakukan sesuai dengan nurani kita atau hanya nafsu semata. Karena terkadang kita hanya melihat kenikmatan dari sudut pandang kita bukan kacamata Rabb kita.
Perlu kita garis bawahi, berhenti sejenak berbeda dengan diam. Diam adalah
aktivitas pasif tak menentu. Sedangkan berhenti sejenak adalah momen
rehat sebagai persiapan untuk menghadapi tantangan ke depan yang jauh lebih keras dan curam.
Berhenti sejenak sebagai sebuah persiapan untuk kita yang mungkin tadinya masih berjalan untuk kemudian berlari mencapai target-target yang telah kita buat atau mencapai taqdirnya.
Seperti teko yang berisi air, jika di tuang terus maka akan habis, begitu juga dengan kita ada saatnya untuk kita mengevaluasi mencharge diri agar tetap dalam kondisi terisi penuh.
Adapun Ramadhan, kita jadikan sebagai ajang untuk berkontempelasi mengevaluasi setelah sebelas bulan yang lalu atau kurang lebih tiga ratus tiga puluh lima hari yang telah kita lewati. Yang mungkin kita lebih banyak mengejar ketertinggalan dunia tapi lupa dengan apa yang akan kita hadapi di negri akhirat kelak. Maka Ramadhan Allah siapkan untuk kita lebih tepatnya saya yang memang masih sering atau lebih banyak melalaikan perintahnya. Ramadhan seperti menjadi filter, pengingat dan persiapan untuk kita menjalani setahun yang akan datang agar kita melewatinya dengan selalu mengingat Allah.
Penghentian sejenak ini harapannya yang akan memunculkan semangat yang selanjutnya bisa ditularkan ke dalam majelis iman jamaah dan menjadikannya sebagai semangat kolektif.
“Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Qs. Yunus [10]:92)
Semoga hati-hati kita selalu dalam kondisi mengingat Allah..
Selamat menaklukkanmu! 😍
#ramadhankareem
4 Ramadhan 1438 H
30 Mei 2017 M
Yuk yang mau wakaf alQuran yang kayak di foto untuk di bagiin ke desa-desa yang belum banyak terjangkau bisa ikut progran Daarut Tauhiid, pahalanya jg balik kekita koq kalo alquran itu di baca terus sama penerima.
Jadikan Ramadhanmu bermakna. 😄😍😍😍

Comments
Post a Comment