Menemukanmu
Aku duduk didepan dibalkon tepat menghadap ke beberapa rumah-rumah tetangga depan samping kanan dan kiri, Dulu katanya hanya rumah inilah yang berdiri tegak belum ada rumah-rumah lainnya. Dan sekarang tanah yang dulu kosong kini sudah penuh tak lagi ada sisa untuk sekedar dijadikan pekarangan rumah untungnya masih ada kebun dibalik perumahan ini hingganya udara sejuk masih bisa dirasakan.Udara pagi yang tak pernah didapatkan di perkotaan. Aku masih asyik membaca tulisan-tulisan di ruang maya berlogo biru putih ditemani kopi khas Lampung buatan ibu. Selalu suka perpaduan tulisan dengan kopi yang begitu nikmat. Perempuan penikmat kopi katamu.
Teh gue sampe, nanti sambut yah pake karpet merah. Suaranya langsung terdengar begitu telpon itu aku angkat.
Assalamualaykum dulu bisa kali bang. kataku menyela
Iyah ustadzah, waalaykumsalam.
Udah nyampe mana lo bang??
Lagi rehat gue teh. ngopi dulu khawatir gx dikasih kopi.
Ya sudah kabari kalo lo udah sampe bang. aku mengakhiri percakapan itu
Aku kesasar, katamu kembali menelponku tidak lebih 45 menit dari kamu menelponku di awal pagi.
Sekarang dimana bang?
Di Masjid yang dulu gue pernah kerumah lo teh.
Puter arah kelewat bang. aku tunggu dipinggir jalan. masih ingetkan wajah gue. tak lama tawa dari sebrang telepon terdengar setelah aku menyelesaikan pembicaraan.
Masih banget. udah keliat lo teh matiin. abis pulsa gue. katanya dengan tawa khasnya
Aku berbalik kembali ke rumah. menunggunya di ruang berukuran 4x4 tempat aku biasa berkumpul.
Kamu masuk dengan salammu yang akhirnya tak kau lupakan untuk di ucapkan. kamu di sambut oleh orang tua ku. dipersilakan masuk dan di paksa untuk memakan yang udah disiapkan olehnya.
Kamu banyak berbicara hari itu, entah bertanya atau sekedar menjawab beberapa pertanyaan yang di lontarkan oleh orang tua ku. Aku berharap kamu bertahan untuk menjawab setiap pertanyaan. Kamu tersenyum entah untuk apa.
Beberapa menit berlalu kamu masih asyik berbicara dengannya membahas tentangmu atau bertanya tentang pertemuan kita. Sesekali juga ia menceritakan tentang nya kepadamu.
Makan dulu, kataku sambil menyajikan beberapa makanan yang memang sengaja sudah di siapkan. gx ada yang special yang penting cukup untuk mengganjal perutmu yah kataku sambil terkekeh melihatnya.
Kurang banyak teh, keluarin aja semuanya. seperti ketegangan diwajahnya mulai mengendur setelah beberapa kali ia harus menjawab pertanyaan darinya.
Gue gx lama abis ini mau lanjut ke rumah temen yang di Palas katanya teh. tau?
oh ya lebih baik itu biar gue gx repot-repot. Tau lah. lo lupa kalo gue yang punya kawasan ini. atau pura-pura lupa.
oh iya ding. lo ikut gx teh?
males gue mau jadi anak mamah dulu hari ini.
Gue taro mana piringnya teh katanya yopi mau nyuci teh, katamu menyebutkan nama temanmu.
sekalian yah di beresin terus cucian baju juga di cuci.
Buset teh, cari kesempatan agaknya. Endro itumah kerjaanya. yo ndro tunjukkn bakatmu.
Sejak menginjakkan kaki dirumahku rasanya tawa itu tak lepas sedikitpun dari mulutmu. walau sekedar mencetak senyum.
Udah bereskan, udah pulang lo bang. kataku menyuruhnya segera pergi.
Dan tak lama setelah ia berbincang kembali dengannya ia pergi pamit untuk melanjutkan perjalanannya.
Jangan kembali jika hanya sementara apalagi sebentar saja. Kembalilah jika kamu sudah yakin untuk menetap. Kata-kata itu nyatanya hanya menguap dalam fikiranku, lagi-lagi ia tak sampai kepada orang yang seharusnya mendengar. Karena orang lain pun punya hak untuk tidak mendengar apa yang ingin kita sampaikan sekalipun itu terkait perasaan kita kepadanya.
Ada hak untuk ia tak mendengar dan ada kewajiban untuk aku tak menyampaikannya. Selamat menemukan siapapun di tempat persinggahanmu selanjutnya sampai kamu benar-benar memutuskan untuk berlabuh di tempat yang seharusnya. Tempat yang kamu benar-benar merasa nyaman bersamanya.
Aku menemukanmu dan Kamu masih mencari untuk menemukan yang lain
Selamat menemukan!
Ruang Kosong
Gambar disini

Comments
Post a Comment