Sapa untuk Tuan
Hai Tuan,
Sudah lama tak menyapamu, bagaimana kabarmu?
Tak ingin tahukan engkau bagaimana keadaanku?
Ah, Tuan, maafkan aku. Saat ini ada rindu yg aku titip kepada seseorang diseberang sana. Aku menunggu rindu itu menguap namun bukan nya ia menguap tapi ia beranak pinak.
Tuan, kelak jika kau sudah sampai ajarkan aku untuk mulai menghapus rindu itu perlahan. Barangkali kedatangamu lah yang bisa menghapuskannya. Aku yakin sekali tuan.
Oh ya, sekarang aku sudah lebih memahami bahwa saat ini memang belum waktu yang tepat untuk kita bertemu, ada yang harus aku ushakan lebih keras ini bukan tentang seseorang tapi tentang orang banyak. Satu cita ku Tuan aku ingin banyak membina orang. Mengenalkan jalan Islam yang aku genggam kepada mereka. Aku ingin mengusahakan diri ini bukan untuk sendiri tapi juga orang lain.
Dan yang aku pahami bahwa ketika aku menginginkan seperti itu, aku harus siap dengan pernyataan bahwa hidup bukan milik sendiri melainkan milik orang lain jg, sebagian nya ada mimpi orang lain dan harapan orang yang dititipkan ke diri ini. Lebih berat tapi menyenangkan.
Semoga ketika kita bertemu kelak kita bisa melanjutkan mimpi ini bersama unruk menjadikan hidup kita bukan hanya milik kita tapi juga mereka. Bahwa mimpi dan harapan kita juga milik mereka.
Selamat Pagi Tuan,
Di tulis ketika menunggu mu, eh Nunggu antrian Bank Tuan.
Di Publish saat waktu luang
semoga kau berkenan membacanya ^_^
Salam rindu dari wanita yang akan menjadi calon Nyonyamu :)

Comments
Post a Comment