Pertemuan


Setelah pesan terakhir yang kamu kirim kan kepadaku, terhitung 14 hari saat kamu mengirimkannya, dan hari ini aku memutuskan untuk menghapus percakapan kita di ruang maya. Ruang berlogo hijau dengan sedikit kombinasi putih. Tempat biasa aku berbagi cerita denganmu tempat yang bisa membuatku bahagia juga menangis tidak karuan. Aku masih ragu melakukannya. Karena banyak kebahagiaan yang tercipta dari sekedar aku membaca pesan-pesan kita. Tapi akhirnya aku melakukannya setelah tombol delete itu terklik terhapus lah semua pesan-pesan yang kita rangkai saat melepas penat atau saat hari-hari begitu berat atau saat hati kita, lebih tepatnya hatiku menghadapi hal-hal yang luar biasa yang aku tak bisa menghadapinya sendirian.

Walaupun aku tahu kenangan yang bersarang dikepalaku tidak bisa dengan mudahnya terhapus seperti percakapan kita yang bisa aku hapus dengan sekali klik. Ia masih tersisa diruang pojokan yang gelap.

Bukan kali pertama memang aku melakukannya, menghapus semua jejak yang pernah kita buat diruang kombinasi hijau itu. Pernah suatu hari aku bahkan menghapus habis semua pesan-pesan kita. Ah, ya tak hanya itu bahkan aku pernah menghapus nomormu dengan harapan aku bisa membunuh juga setiap kenangan yang tercipta di ruang maya tersebut. Tapi nyatanya tidak, karena aku faham dengan pesan yang kamu kirimkan bahkan sekalipun kamu memgirimkan pesan itu tanpa namamu di dalamnya. 

Hai teh, aku mau ke Lampung, aku mampir yah. 

Namamu kembali memenuhi ruang berlogo hijau dengan kombinasi putih itu, beberapa menit setelah aku menghapus percakapan kita yang berhasil selalu menyisakan rasa entah itu sedih atau bahagia. 

Bahkan setelah aku berusaha kuat untuk menjauh, kamu hadir sesukamu tak pedulikan aku yang berusaha untuk mengenyakan mu dari hidupku.

Ngapain bang? Dan yang menyebalkan rasa penasaranku tak berhasil untuk menahan tidak membalas pesanmu.

Aku mau maen, jadi sekalian aku mau mampir. Udah lama juga aku gx kerumah mu teh. 

Berasa lo sering maen kerumah sih bang? Baru satu kali aja. Itupun kebetulan. Ya kan bang?

Gx ada kebetulan teh didunia ini, kecuali Allah udah ngerancangnya untuk kita bertemu. 

Aku mencoba mencerna pesan yang ia kirim, berkali-kali aku baca pesannya untuk memastikan bahwa yang ia katakan memang benar. Namun pertemuan itu bukan yang aku harapkan. Aku memutuskan untuk tak membalasnya lagi.



Comments

Karya Lainnya

Sayap Patah

Secangkir Harapan

Penerimaan