Taaruf Jalan tuk Sempurnakan Separuh Agama
Rasanya tidak mungkin jika kita ingin sampai ke tujuan tanpa melewati sebuah jalan, sebuah proses untuk sampai kesana.
Misalnya kita akan ke Jakarta. tidak mungkin kita bisa sampai ke Jakarta dengan langsung tanpa menaiki kendaraan sekalipun itu pesawat masih ada proses yang harus di lewati.
Pun dengan pernikahan untuk sampai kesana kita harus siap dengan yang namanya sebuah penolakan sebelum samapai kedalam proses penerimaan, sebuah proses penguatan hati, sebuah proses untuk menguji hati pun niat. Jika itu hanya berlandaskan keinginan untuk menikahinya bukan karena Allah maka sakit yang diderita dari sebuah penolakan sangatlah mendalam. Sebelum sampai kepada proses sebuah penerimaan dari apa yang kita inginkan.
Jika di tolak atau menolak intinya ia bukan yang terbaik untuk kita.
Adalah sebuah proses baik itu penerimaan atau penolakan melainkan Allah berikan kepada kita untuk di ambil hikmah dan pelajaran bahwa yang berhak memutuskan hanyalah Allah. Bahwa yang berhak menyandingkan atau tidak menyandingkan kita dengan seseorang hanyalah Allah.
"......Sungguh pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata hati)" (Al Imron : 13)
Lantas apakah kita boleh berharap? Boleh, tapi hanya kepada Allah.
Adalah Taaruf sebuah proses dari banyak proses untuk kita menuju gerbang pernikahan. Didalamnya ada yang di uji dengan berkali-kali penolakan, baik itu penolakan dari sang laki-laki atau perempuan atau penolakan dari keluarga. banyak kisah yang saya dengar yang kemudian membuat saya berfikir. oh ya ini sebuah proses yang harus kita lalui dan ketika saya akan beranjak kesana itu artinya saya harus menyiapkan hati utuk itu semua. pun sama dengan teman-teman yang akan memulai sebuah proses taaruf. Bahwa tidak hanya proses yang indah saja didalamnya ada proses jatuh bangun, kepahitan sebelum sampai kepada kita rasa manisnya.
Terkadang ketika sampai kepada kita berita bahwa dia akan menikah setelah memalui proses taaruf. Yang terbayang dengan kita hanya lah manisnya saja tidak terlintas sebuah proses jatuh bangunnya ia. proses penolakan baik di awal atau pun di tengah atau bahkan di akhir. Atau proses penantian ia yang amat panjang tapi ia habiskan dalam ketaatan. Bagaimana ia menjaga keistiqomahan dalam penantian. Atau bagaimana ia menguatkan hati dalam sebuah penantian atau bahkan menjaga sebuah proses agar ia tak keluar jalur untuk mencapai pernikahan yang barokah. Seringnya kita terlupa dengan hal yang demikian
Saya pernah dengar perkataan bahwa yang menentukan sebuah pernikahan itu berkah atau tidaknya adalah proses nya menuju kesana, baik atau tidak nya proses tersebut. Maka yang harus kita jaga proses nya. proses penantian, proses taaruf, dan proses akad sampai dengan resepsi. Meski harus jatuh bangun, dan terkadang khilaf atau bahkan terjerembab kemudian bangkitlah.
dan dari itu semua adalah sebuah proses yang mungkin dari sekian banyak proses dan rasa salah satunya akan kita lewati. jangan takut hanya saja kita harus siap dengan semua itu.
ada resiko dari setiap pilihan, mungkin seperti itulah.
Tapi apapun yang kemudian kita lewati dan akan kita lewati yakin lah bahwa semuanya adalah yang terbaik untuk kita dari Allah yang Maha Baik.
Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan
bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Jadi penikmat dulu deh siapa tau jadi pengamat. Syukur-syukur bisa nulis juga kaya te'atin. Tapi masih jauh untuk itu spertinya
ReplyDeleteMasih harus belajar lagi teteh jg. Belum ada apa-apa nya.
ReplyDeleteKamu jg udah keren ih. Suka bikin iri (dlm kebaikan) :)