PILIHAN



Izzah

Hai, apa kabar?

Assalamualaykum sehat lo?

Wah lama tak berkabar? sehat?

Entah kata sapaan yang mana yang pantas aku kirimkan sebagai pesan pertama yang aku kirim di bulan ini. ada sebongkah rindu ketika aku mencoba untuk menuliskan pesan itu kepada mu. 34 hari tanpa berkabar dengan mu cukup berhasil menurutku. karena itu waktu terlama untuk aku menahan tidak berkabar darimu walau sekedar berkata hai. dan kamu pun begitu berhasil tak menyapaku.

Dan di menit ke 414 di hari ke 9 dalam bulan ini aku tak cukup bisa menahan lagi untuk bisa mengirimkan pesan itu kepadamu. dan aku gagal kembali!

Walaupun memilih mundur bukan pilihan satu-satunya hanya saja menurutku saat itu itu adalah langkah yang terbaik, sebelum terlalu jauh melangkah atau mungkin aku terlalu takut untuk mengakui bahwa aku telah jatuh cinta. begitu mudahnya aku jatuh cinta tapi sulit untuk kembali melupa.

Ketika aku memilih mundur, satu hal yang aku ingat bahwa itu aku ambil bukan semata-mata pilihan aku. Aku bertanya kepada Tuhan ku, Tuhan kita apakah ini bisa berlanjut atau tidak. aku meimnta Tuhan untuk menjauhkan kamu jika memang nyatanya ini tidak bisa berlanjut. dan saat ketika dulu aku memilih mundur Tuhan menjauhkan kamu dari ku. kamu menghilang setelah percakapan terakhir kita tentang aku. tak ada lagi kita dalam beberapa hari. Lebih tepatnya 34 hari dari terakhir aku memutuskan untuk mundur.

dan di hari ke 34 di menit ke 415 dengan sadar aku memulai kembali. entah atas dasar apa. yang pasti aku akui aku salah karena telah menggeret mu kembali ke dalam dunia yang tak seharusnya kita ada didalamnya.

hei, sehat lo bang?
bagaimana dengan kabar Rumah cinta lo?

dua kalimat itu akhirnya meluncur masuk dalam HP mu sebagai pesan yang aku kirim kepadamu hari ini. 5 menit tak ada jawaban, 1 jam juga tak ada pesan darimu. 6 jam pesan itu tak dibalas olehmu.

Menyesal, kata yang pantas untuk aku telan saat ini. menanti sesuatu yang tidak pasti.

ah sudah lah hanya menggagu aktivitas ku hari ini. detik ini aku melupa.

ah bukan merindu, hanya saja aku sedang tidak terlalu sibuk dengan kegiatanku. semoga, semoga tukas ku dalam hati mencari kata yang tepat untuk keadaanku saat ini.

walaupun di bawah langit yang sama, namun rasanya sulit untuk menjangkau. terlihat begitu jauh walupun nampaknya kamu begitu dekat.


Chapter 1
Chapter 3

Comments

Karya Lainnya

Sayap Patah

Secangkir Harapan

Penerimaan