Ujian
Ayo siapa yang mau maju duluan, tanyaku pada mereka.
Semua terdiam tak ada yang menjawab.
Nabila, yuli, satya, kenzo. Aku menyebutkan nama mereka satu persatu. Kemudian bertanya lagi siapa yang akan mendapatkan giliran pertama. Namun rasanya percuma karena mulut kecil itu tak jua terbuka.
Okeh, sekarang umi yang menunjuk siapa yang akan maju duluan.
Nabila maju sayang. Kataku memanggilnya.
Ia yang memang sudah lebih banyak menghafal dibanding yang lain dan juga sudah mulai mengaji Alquran. Berbeda dengan yang lain yang masih belajar buku tahsin 2 atau iqro.
Kemudian ia maju kedepan dan mulai menghafal. Hari ini ujian hafalan. Lebih tepatnya murojaah (mengulang hafalan yang telah dihafal dalam kurun waktu tertentu).
Ayat pertama lancar, ayat kedua ia tersendat membacanya, lanjut ayat ketiga ia lupa. Ia berusaha dengan keras mengingatnya ternyata ia memilih mundur dan mengulang setelah yang lain maju. Sama hal nya dengan teman-teman yang lainnya. Banyak kemudian yang memilih gugur kemudian mengulangnya kembali sampai akhirnya mereka bisa menyelesaikan hafalannya dengan baik. Tapi ternyata butuh waktu dan energi yang mereka keluarkan untuk merampungkan itu semua.
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Alankabut :2 )
Maka kemudian saya teringat bagaimana ketika saya mendapat ujian dari Allah. Bahwa seringkali kita tidak siap dengan ujian walaupun kita tahu bahwa kita akan selalu di uji oleh Allah baik itu sebagai kasih sayang Allah kepada kita, peringatan Allah atau untuk menguji keimanan kita sampai untuk menaikkan level atau deraja kita disisi Allah. Maka kemudian ketika kita memilih mundur maka sudah sipastikan kita belum pantas untuk berada dilevel tersebut.
Ketika kita sekolah untuk bisa naik kekelas selanjutnya ada ujian semester yang harus kita hadapi. Pun sama dengan kehidupan dunia ada level-level tertentu yang harus kita lewati untuk bisa kemudian mendapatkan label beriman. Dan yang harus kita fahami bahwa selama kita hidup didunia maka ujian itu akan terus kita rasakan, hadapi dan harus dilewati. Maka yang harus kita siapkan adalah keyakina. Kita kepada Allah. Bahwa dengan ujian ini akan ada hikmah terbaik dari Allah. Bahwa ujian ini adalah kasih sayang dari Allah.
Allah memberikan masalah kepada kita bukan untuk kita mencari solusinya, bukan untuk kita menyelesaikannya. Taoi Allah ingin kita memohon kepada Allah, mendekat dan menghiba. Karena sejatinya yang bisa menyelesaikan semua permasalahan yang ada didunia ini hanyalah Allah.
Wallahu musta'an.

Comments
Post a Comment