Puzle Cinta ][ Jumpa Pertama
"Aku yakini dimanapun kita berada, berbeda pulau, sekalipun Negara jika sudah berjodoh kita akan dipertemukan, karena kita berada di bumi yang sama. Buminya Allah Tuhan kita "
(ainayya)
Dipertemukan dengan mu seperti diberikan hadiah yang special, bahkan sangat special. hadiah yang saya nanti cukup lama beberapa tahun lamanya. dan kini aku merasa orang yang paling bahagia karena Ia telah pertemukan kita.
Pertemuan dengamu tidak seperti adegan sinetron bertabrakan kemudian barang yang kamu bawa berjatuhan dan kita saling berebut untuk membereskan. juga tak seperti yang lain yang di awali dengan pertengkaran yang kata orang berawal dari benci kemudian menjadi cinta. tak ada yang seperti itu dalam pertemuan kita.
Jumpa pertama kita saat kamu berbicara kepada orang tua ku meminta ku untuk menjadi istrimu. aku bahkan tak berani untuk melihatmu. tapi rasanya foto yang kamu cantumkan di proposal tak sama. kamu terlihat lebih, ah entahlah ini hanya perasaanku saja mungkin karena aku belum melihatmu dari dekat.
Tak lama kemudian setelah kamu begitu banyak berbicara dengan ayahku seperti kelegaan meliputi wajahmu. senyummu katanya lebih tenang dibanding saat pertama kamu akan bertemu dengan ayahku. tak mudah pasti mengumpulkan keberanian sebanyak itu untuk memperjuangkanku. padahal kamu bahkan tak mengenalku sebelumnya. jangankan mengenal tahu nama pun baru beberapa hari setelah kamu menerima proposalku.
Sudah pernah lihat Hana sebelumnya, kata ayahku bertanya kepadamu
kamu diam, entah apa yang kau fikirkan saat itu. Aku berkali-kali khawatir ketika tak lagi mendengar suaramu. Aku takut kamu akan berhenti memperjuangkanku.
Sudah pak, tapi baru di foto katamu menjawab. ah lega rasanya ketika kamu menjawab seperti itu.
Hana, mana minumnya dikeluarin dulu. ayah memanggilku
kamu tahu, betapa berdebarnya jantungku saat itu. seperti erupsi gunung merapi yang akan mengeluarkan laharnya. keberanian yang aku kumpulkan beberapa hari terakhir sebelum kamu memutuskan untuk pertemuan hari ini rasanya lenyap sudah tak bersisa. Bahkan senyumpun sangat sulit untuk dilukiskan. Bukan aku tak ingin bertemu denganmu. Bahkan pertemuanmu dengan orang tuaku adalah hal yang sangat aku nantikan. Tapi entah sebab apa, seperti kehilangan bumi untuk dipijak.
Iya yah sebentar, kataku menimpali dari dalam. Aku belum keluar ketika kamu berbicara dengan ayahku. aku hanya bisa mendengar suara percakapanmu saja.
Aku membawa minuman untukmu dan temanmu yang lainnya. kamu tak sendiri hari itu menyambangi rumahku. Secangkir teh yang aku buat dengan penuh tanya, dan semua rasa yang aku campurkan kedalamnya. mungkin jika kau meminumnya kamu akan merasakan pula apa yang aku rasakan saat itu. Tapi entah mengapa aku yang begitu kuat sebelumnya hanya membawa secangkir teh tanganku bergetar hebat terlebih saat aku menyajikannya kepadamu.
Seperti ada guncangan di sekitarku, yah gempa yang melanda diriku saja. aku terus menunduk bahkan niat awal untuk jumpa pertama denganmu lenyap begitu saja. aku bahkan tak berani untuk sekedar mengangkat wajahku. rasanya ada berton-ton beban yang menimpa kepalaku sehingga sulit untuk ditegakkan. yang aku fikirkan saat itu adalah bagaimana caranya agar aku bisa menghilang detik itu juga. atau kamu yang tetiba menghilang dari hadapanku.
kamu hanya tersenyum kecil melihat aku yang seperti itu katanya. Entah apa yang ada dalam fikiranmu saat itu. ah biarlah itu cukup menjadi kenangan yang jika kita bersama akan menjadi sesuatu yang manis yang akan kita kenang suatu saat nanti. Yah suatu saat nanti.
Aku kebelakang yah. kataku segera setelah selesai menyajikan minum untukmu.
Kamu berbicara lagi dengan orang tuaku, entah apa yang kau bicarakan lagi sepertinya banyak sekali bahan yang kau siapkan untuk hari ini. Tapi aku tak bisa lagi mendengarnya. karena setelah kejadian itu aku langsung masuk kedalam kamarku dan menenggelamkan diriku sedalam-dalamnya kedalam Kapuk yang berbentuk segi empat. aku malu.
Tak berapa lama kamu pamit, katamu khawatir terlampau malam sampai dirumah orangtuamu karena harus menempuh beberapa jam perjalanan untuk sampai. karena esoknya kamupun harus mengarungi lautan kembali untuk sampai ketempat yang kau tinggali saat ini. Karena yang aku tahu kamu tak tinggal dengan orangtuamu saat ini.
Rasanya enggan untuk melepasmu pergi. Ada rasa kekhawatiran kamu tak kembali, kamu enggan memperjuangkan ku lagi. Benar kata Salim a Fillah perempuan akan selalu meminta penjelasan bahwa kamu benar-benar mencintainya atau setidaknya saat ini kamu benar-benar akan memperjuangkanku.
Tapi lebih dari itu bukannya kita tak bisa berbuat apa-apa selain harap kepadaNya agar kita benar-benar dipertemukan dalam sebuah pertemuan yang baik dalam ikatan cintaNya.
Seperti kata Dee "Karena hati tak perlu memilih ia selalu tahu kemana harus berlabuh.
Kita hanya butuh waktu untuk sama-sama melihat bagaimana kemudian Allah mempertemukan kita kembali.

Comments
Post a Comment