Perkenalan



Izzah

Nanti kalo aku udah mau berhenti, kamu siapin segalanya yah teh, katanya dalam sebuah pesan pagi ini. 

Misalnya? Kataku membalasnya. 

Siapin aja semuanya. Balasnya kembali

Entah sejak kapan percakapan itu berlangsung, yang saya tahu kita sudah begitu dekat walaupun jarak diantara kita jelas ada. 

Aku tak membalas pesannya lagi. Ia selalu seperti itu membiarkan ku berfikir sendirian, mencari jawaban yang tak pernah akan aku temukan karena hanya ia yang memegang kunci jawabannya, atau memang dia juga belum busa memastikan jawabannya sendiri. Dan akhirnya pergi tanpa kabar, Begitulah kita. 

Tetiba datang menyapa, sebentar, kemudian pergi menghilang. Hanya sampai disana. Kita tak pernah berniat untuk sama-sama melewati batasan-batasan itu. Kita hanya bisa saling menerka tanpa bisa mendapatkan jawabannya. 

Ingat sekali bagaimana kita memulai percakapan. Aku yang baru bertemu sekali tentu sudah lupa yang mana dirimu, bahkan saat bertemu aku belum tahu namamu. Yang aku tahu kamu adalah teman kakakku. Kita bertemu saat pernikahan kakakku. Tentunya sudah pasti kamu yang melihatku lebih dulu. Pertemuan kita tidak seperti sinetron yang di awali dengan tabrakan didepan perpustakaan. Atau kamu menabrakku hingga barang yang aku bawa jatuh berserakkan. Karena aku memang sudah lupa atau mungkin melupakan pertemuan singkat itu. 

Kamu pasti sudah lupa denganku, katanya diawal chat kita. Okeh baik saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Zaki Ramadhan, angkatan 2010. Adek tingkatnya tetehmu.  Begitulah kamu memulai perkenalan. 

Dan entah sebab apa akupun membalasnya, dengan sedikit perkenalan basa basi, menyebutkan nama dengan niatan menghargai dia, karena di adalah teman tetehku. Percakapan berlanjut hingga pada perdebatan kamu yang tak mau dipanggil kakak karena kita yang tidak beda jauh angkatannya. Pun sama dengan aku yang tidak terbiasa memanggil orang dengan sebutan nama. Aku terbiasa memanggil orang yg diatasku dengan kk dan dibawahku adek. Siapapun orangnya. 

Hingga kemudian panggilan abang dan teteh pun tersemat di masing-masing diri kita. Bukan panggilan special. Tapi lebih kepada proses kita saling menghormati. 

Dan setelah itu kamu menghilang, entah tertelan atau memang mengubur diri hingga tak pernah satu chat pun hinggap di layar datarku. 

Dan akupun sama. Tak pernah sekalipun lagi mengirimkan pesan itu kepadamu. Sepertinya kita butuh banyak waktu yang banyak untuk sama-sama mencari jawaban atas perasaan ini. 

Entah perasaan hilang atau menemukan. Seperti dua mata uang yang tidak pernah bisa saling berhadapan begitulah kita. Ia hanya bisa bersisian. Mungkin akan selalu seperti itu hingga kita bisa sama-sama membuka diri barulah kita akan bisa saling berhadapan atau bahkan mungkin berjauhan. 

Sebelum sampai kesana, aku hanya ingin kita bisa saling bertahan dengan apa yang memang kita anggap benar dan memulai mundur dengan apa yang kita anggap salah. Dan sementara ini aku memilih mundur kepadamu. Karena sepertinya aku menginginkan pertemuan kita yang baik walaupun itu bukan pertemuan pertama kita. 



Comments

Karya Lainnya

Sayap Patah

Secangkir Harapan

Penerimaan