Karena yang terbaik adalah berusaha memHami taqdirNya

Ketika saya memutuskan untuk bergabung dengan dunia saat ini, bukan tanpa pertimbangan. Bahkan keraguan sempat menghimpit perasaan antara harus melanjutkan atau berhenti di tengah jalan.

Apalagi ketika abah menanyakan hal-hal detail tentang pekerjaan sampai tentang masa depan jika saya berada ditempat ini. Karena orangtua mana yang tak ingin melihat anaknya bahagia dan sukses di dunia.

Tapi kembali berpikir bahwa berhetni di tengah jalan itu artinya berhenti untuk melakukan kebaikan. Hingganya saya berniat melanjutkan dan mencoba memahami taqdir yang Allah berikan dengan terus merenda kesabaran untuk semakin berusaha mencintai taqdirNya.

Tangisan tiap malam menemani setiap perjalanan sampai detik sebelum ini. Sebelum memahami bahwa ini adalah jawaban dari doa saya sebelumnya.

Sebelumnya saya berada ditempat dimana kedekatan saya denganNya berkurang. Harus berlari untuk mengejar waktu shalat, harus menangis ketika malam tak terbangun hingga seringkali kesiangan. Mencoba melukis senyum ditengah tekanan dan gesekan.

Hingga pada akhirnya Allah berikan jawaban semuanya, Allah membalikkan semua keraguan menjadi keyakinan kepadaNya. Perlahan membuat mereka (orang tua) percaya yang dijalani saat ini adalah yang terbaik untuk dijalani. Walaupun masih harus tertatih untuk mencoba berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka. Tapi saya yakin Allah tak pernah tidur, karena kebahagiaan yang tercipta itu karena Allah yang memberikannya. Ketika pun itu lewat saya, saya hanya menjadi perantara mereka bahagia, bukan saya yang mencipta bahagia.

Karena apa yang kemudian bisa kita lakukan, selain menjalani taqdir yang Allah berikan. Karena sekuat apapun kita menolak hanya akan berefek kepada beban berat yang harus kita tanggung selama menjalani peran yang diberikan. Tapi ketika kita berhasil memahami semuanya bahagia yang akan kita rasakan. Cibiran, hinaan, cacian atau bahkan pujian sekalipun tidak akan berpengaruh jika kita berhasil meniatkan semua itu karena untuk berusaha menjadi hamba terbaik di sisiNya.

Hingga kemudian hanya kalimat syukur yang berhasil keluar dari mulut mungil ketika kita berhasil memahami taqdir yang Allah berikan.

Hingga tangis bahagia yang mengalir, menganak pinak ketika berhasil melewati semuanya dengan baik ditengah derasnya ujian kesabaran.

Hingga hanya senyum simpul yang keluar ditengah cacian, hinaan hingga pujian. Karena jika sudah Allah yang menjadi tumpuan maka itu tak pernah menjadi hambatan untuk terus berada ditempat ini dan melakukan kebaikan.

Semoga Allah istiqomahkan untuk selalu berada dalam kebaikan. Aamiin

WaAllahualam bisshowab.

Bandar Lampung, 16 Oktober 2016





Comments

Karya Lainnya

Sayap Patah

Secangkir Harapan

Penerimaan