Hijrah || The Road to Paradise



Jika kalian melihat dari cara bagaimana saya berpakaian maka kalian hanya akan melihat kebaikan. Jika kalian melihat saya dalam ber tata bahasa di dalam social media maka yang kalian dapati kebijaksanaan. Itulah saya dalam kamuflase yang nyata dan itu dulu pernah terjadi.

Tapi lebih dari itu hatiku kosong tak berisi termasuk Dia yang Maha menciptakan. Hijrahku belum sempurna hanya fisik belaka.

Jangan salah sangka jika sudah berhijrah maka tantangan tak ada. Justru disitulah kemudian kistiqomahan di uji.

“Karena setelah beriman, ada istiqomah yang dipertanyakan.”

Yah, saya memang tidak di uji dengan awalan hijrah saya seperti kebanyakan teman-teman. Saya diberikan kebebasan untuk memilih mau seperti apa hidup saya nantinya. Hingga nya orang tua tak pernah mempermasalahkan cara saya berpakaian ataupun lainnya. Hanya sedikit saja sempat diprotes dengan kaos kaki yang saya pakai waktu itu, Dan itu tak lama. Saya pun kembali Allah uji dengan kemudahan dakwah di keluarga, tak lama berselang saya dan kakak (saya yang telah lebih awal) memutuskan untuk berhijrah kemudian ibu pun mulai mengenalan jilbab sehari-hari walaupun belum lebar pada saat itu. Tapi saya merasa bersyukur. Saya tidak pernah berfikir bahwa kemudahan itu pun adalah ujian. Saya melihat banyak teman-teman yang kemudian ingin berhijrah tapi malah mengalami penolakan dari keluarga belum dari lingkungan yang menjudge bahwa ia adalah seorang teroris, aliran sesat dan masih banyak lainnya.

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya."

Ujian setiap orang berbeda-beda sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Jika kebanyakan teman-temn di uji di awal proses hijrahnya, maka berbeda dengan saya. Saya di uji di tengah hijrah saya, kenapa saya katakan tengah karena kita tidak pernah tau bagian akhir, karena akhir kita adalah sebuah kematian.

Saya sudah hijrah, ya saya akan menjawab dengan tegas. Saya sudah memakai jilbab syar'i, yah dan kalian bisa melihatnya dengan nyata apa yang saya kenakan saat ini. Sederhananya saya telah berhijrah.

“Wahai yang Maha mebolak-balikan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu”

Hari ini beriman belum tentu esok hari, hari ini rajin ibadah besok tetiba malas menggerogoti. Itulah hati manusia. Yang kemaren menggembor-gemborkan “Say No to Pacaran” tetiba hari ini sudah bergandengan tangan dengan seseorang yang belum di halalkan.

“Al imani yazidu wa yankus (iman itu kadang naik kadang turun)"

Saya hijrah mengenakan pakaian syar'i sejak awal SMA, lama jika di hitung dari sekarang. Dan proses jatuh bangunnya pun tidak sedikit, pun sama dengan teman-teman hanya kita berbeda ujian. SMA saya merasa tidak pernah di uji dengan sesuatu yang serius dari hijrah saya. Masuk awal perkuliahan barulah kemudian ujian itu datang. Saya berkenalan dengan seorang kakak tingkat yang juga berkecimpung di dunia LDK (Lembaga Dakwah Kampus) lambat laun perkenalan itu ternyata tidak biasa. Menyisakan getar-getar asmara. Ia hadir menelisik kedalam hati dan berbuah menjadi cinta.

Saya tidak pernah pacaran, tapi bukan berarti saya tidak pernah mencinta atau suka. Saya manusia normal yang juga punya rasa suka, cinta juga benci. Saat SMA berada dalam lingkungan hanya perempuan membuat saya terjaga dalam hijrah saya. Saya tidak pernah mempersiapkan bagaimana kemudian saya akan dihadapkan dengan dunia kampus yang begitu banyak laki-laki. Sampai lah aku terjerat oleh umpan yang syetan tebar di sekeliling saya.

To be continue part 2

Comments