Mereka dan Palestina
Ada sebuah kisah dimana
Mereka tak pernah merasa aman di Negerinya
Mereka tak pernah merasa nyaman di rumahnya
Sarapan mereka hanyalah peluru-peluru
Makan siang mereka buldoser-buldoser yang menghancurkan bangunan-bangunan
Dan suara yg terdengar adalah tangisan sang ibu
Di hadapannya putri kecilnya terbujur kaku
Sang ibu harus merelakan kepergian anaknya
Sang istri harus ikhlas melepas kepergian suaminya, yang merekapun tak pernah tahu kapan ia akan kembali
Dan ditempat lain seorang anak mencari ayahnya.
Dan apa yang di jumpai sahabat,
Darah, tubuh itu bersimbah darah
Tubuh tegap itu tak lagi bernyawa
Anak itu menangis
(Dalam tangisnya ia berkata: Ayah, ayah kini engkau telah pergi, kini engkau tak lagi bersama kami, tapi ayah kami bangga padamu, kami bangga padamu)
Mereka tidur di kengerian malam
Hari-hari adalah ketakutan tiada henti, tiada henti dan tanpa tau kapan semua itu akan berhenti.
Tapi tatkala berjuta rudal itu menghancurkan
Maka disitulah berjuta semangat membara
Tapi tatkala berjuta nyawa melayang
Maka disitulah berjuta mental semakin menegang
Meski terluka, di ujung nafasnya mereka berkata
Kau hanya hancurkan rumahku
Kau tak bisa hancurkan imanku
*sebuah puisi yang saya bacakan di acara konser amal peduli negeri DPU-DT Lampung,
*sebuah panggung pertama untuk aku membuktikan apa yg menjadi passionku selama ini
*sebuah kepercayaan yang mereka tanamkan kepadaku
*sebuah persembahan untuk mereka saudaraku yang dipalestina
*Gd. Parahita Marcopolo, 29 mei 2016
Best regard
Ainayya

Comments
Post a Comment