Belajar Mencintai Kehilangan
Akhirnya, tulisnya dalam sebuah pesan yang dikirim kepadaku.
Kenapa beb? Tanyaku padanya kembali dalam sebuah chating siang ini.
Dia menikah juga. Katanya kembali
Sudah kupastikan ia dalam keadaan tidak baik sekarang. Ah, apa yang harus aku sampaikan tanyaku dalam hati.
InsyaAllah kamu pasti kuat ngelewatinnya beb. Kembali kukirim pesan padanya. Sayang aku tak didekatnya saat ini, jika saja aku disampingnya ingin rasanya kupeluk dia. terkadang kata-kata tak jadi solusi untuk saat seperti ini.
Ia doainyah, semoga dikuatkan dengan hati ini, iman ini agar ia tetap.
InsyaAllah hanny. Aku Selalu menyelipkan doa untukmu. Kataku kembali mengirim pesan padanya.
Gx tenang lagi ikut kajiannya dee, pengen pulang rasanya. Katanya pada pesan selanjutnya.
Selesaikan dulu, siapa tau akan lebih tenang dibanding dirumah.
Hening. Tak ada balasan lagi darinya.
Sedih rasanya ketika harus menyaksikan seorang sahabat yang lagi-lagi harus gagal move on dari seorang lelaki yang akan menikah.
Ingat sekali pertemuan awalku dengannya, ada kekaguman dari hatiku untuknya. Ia yang berusaha untuk move on mencoba menghabiskan waktunya hanya untuk mengikuti kajian. Hanya saja kehilangan itu belum bisa menyatu dengannya ada penolakan dalam hatinya sehingga ia merasakan hal ini.
Pernah suatu saat ia melemparkan pertanyaan kepadaku, kenapa harus aku? Padahal aku baru saka mencoba untuk hijrah, mencoba lebih baik, kenapa harus di uji dengan seperti ini?
Kamu mampu han, kataku kepadanya. Ia hanya diam setelahnya
Memang begitu

Comments
Post a Comment