Untitled 2
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisaa: 3)
semua pasti tau dengan dalil di atas, jika kita berbicara tentang cinta, jodoh, menikah maka kita juga harus bisa membahas yang satu ini. yah Poligami. satu kata yang sangat ditakutkan seorang wanita terutama yang belum menikah, bagaimana bisa kita harus mempersiapkan diri untuk membagi cinta. sedang merasakan memiliki cinta dari seseorang yang bernama lelaki secara utuh saja belum. bagaimana kemudian kita harus mempersiapkan hati untuk dibagi kepada siapa pun kita tidak tau. berbagi barang, makanan atau hal yang kita suka saja terkadang kita berat. apalagi jika harus berbagi hati dan juga cinta.
ini adalah tulisan saya yang kedua tentang poligami. muslimah, ternyata tidak mudah untuk kita memahami sesuatu apa yang kita benci. bagaimana kita akan tau dan paham akan sesuatu hal jika kita saja membenci habis dengan nya. hingga tak ada ruang yang tersisa sedikitpun untuk sekedar berkenalan atau menyapa nya. itu yang saya rasakan. ketika ada orang yang menyebut kata poligami saat itu juga saya akan pergi meninggalkannya. atau hanya sekedar menjawab saya tidak setuju. itu saja
karena bagi saya, saya tidak rela kemudian untuk membagi ataupun menjadi orang yang dibagi. tak bisa dibayangkan bukan.
tapi ternyata fikiran seperti itu salah, saya baru menyadari bahwa ketika saya menolak poligami itu berarti sama halnya saya menentang perintah atau aturan yang Allah berikan dan Allah tetapkan untuk kita. itu sama hal nya saya tidak menjadi hamba yang beriman. itu yang terfikir. saya mencoba untuk menerima bahwa saya setuju dengan poligami tapi jika itu tak berlaku untuk saya. lucu memang, egois tepatnya.
saya hanya memikirkan hati saya jika saya hanya berfikir seperti itu. sehingganya dengan cara Allah. Allah pertemukan saya dengan seseorang yang kemudian membuka fikiran saya.
ingat sekali apa yang ia katakan kepada saya saat itu, teh atin sekeras apapun kita menolak untuk di poligami jika Allah berkehendak nantinya suami kita poligami maka itu pasti terjadi. begitupun sebaliknya sekuat apapun kita menyuruh dan menyetujui suami kita poligami tapi jika Allah tak mengizinkan maka itu takkan terjadi, jadi jalani aja teh jangan terlalu membenci yang berlebihan dengan sesuatu hal. katanya dengan bijak ia menyampaikan.
" sesuatu dari hati akan sampai ke hati"
begitu lembutnya ia sampaikan kalimat itu, hingganya aku menyadari kesalahan cara berfikirku. yah aku harus bisa menerima ketentuan bahwa poligami itu dibolehkan dan itu yang terbaik bagi kita sebagai manusia.
kemudian Allah pertemukan kembali dengan salah satu ustadz yang ada di tempat saya bekerja. jam kerja beliau sangat tinggi. jarang pulang kerumah, bahkan bisa dalam sebulan beliau hanya pulang sehari. ia sampaikan bahwa hak istri saya lebih sedikit di terima dibandingkan lembaga ini. siapkah para akhwat disini untuk dipertemukan dengan suami yang super sibuk, sibuk untuk dakwah, sibuk untuk ummat, sibuk untuk Allah?
deg,
diam, hanya senyum yang mengembang diwajah kami saat itu. bukan itu pertanyaan yang kami tunggu ustad, kami menunggu ustad menanyakan siapkah kami menikah dan menawarkan salah satu ikhwan pilihan ustad, tapi ternyata kami salah menduga. yah ada pertanyaan yang belum terjawab pertanyaan selanjutnya ternyata harus kembali berbaris mengantri menanti jawabannya.
ketika kami siap menikah, itu berarti kami harus siap dengan konsekuensi selanjutnya. dan itu tidak mudah. ada yang harus dibenahi lagi, niat kami harus terus diperbaiki.
saya sudah di izinkan poligami oleh istri saya, bahkan beliau seringkali menanyakan kesiapan saya. samapi suatu ketika ia di undang oleh majlis taklim untuk mengisi ceramah tentang pernikahan dan istri saya menjadi pembicara kedua. sampailah kepada bahasan tentang poligami. tentang Ustad Anis Matta, Tifatul Sembiring, tentang Ustad Arifin Ilham, Ustad Lutfi Hasan Ishaq dan sampailah ke Aa Gym. pertanyaan demi pertanyaan ditanyakan kepada pembicara pertama. ia menjawab dengan lugas perbandingan di antara para ustad yang melakukan poligami. tapi kemudian ada pernyataan yang membuat pembicara kedua kurang sepaham dengan pembicara pertama maka dengan tegas pembicara kedua (istri sang ustad saya) bertanya bagaimana ibu bisa menjelaskan seperti itu apakah ibu siap untuk dipoligami? tanya istri ustad saya. saya belum siap jawabnya, apakah mba sendiri sudah siap? ia kemudian berdiri jika ibu ada rekomendasi ibu bisa hubungi saya di nomor ini. saya terkejut kata sang ustad ketika menceritakan cerita di atas,
hanya satu pertanyaan yang bertengger di kepala saya ketika mendengar cerita di atas.
bisa kah saya seperti itu?
sedang dalam penantian saja berat bagi saya untuk memperahankan ketaatan ini,
banyak sekali godaan yang bisa membawa saya kedalam kemaksiatan, yang akan menjerumuskan kedalam proses yang tidak baik.
menanti dalam ketaatan bagi saya adalah ujian, ujian kesabaran.
maka, saya bangga dengan muslimah yang diluar sana ia yang berhasil melewati masa penantian dalam ketaatan dan kesabaran. ia yang mempertahankan izzahnya tanpa memperdulikan tatapan orang yang malah dengan jelas menyebutnya perawan tua, ia yang berhasil mempertahankan ketaatannya dalam penantian padahal gunjingan orang memekakkan telinga bahkan desakan keluarga tak bisa dielakknya. tapi banyak yang kutemukan ia yang belum dipertemukan dengan jodohnya ia yang berdiri tegak berjalan dijalan Allah dalam ketaataan. semoga kelak mereka dipertemukan dengan takdir terbaiknya. karena rencanNya adalah rencana yang paling baik yang ada dan pernah ada.
wallahuala bi showwab

Comments
Post a Comment