Mencintamu Dalam Diamku
Resikonya mencintai dalam diam itu kayak begini nih, tiba-tiba ditinggal nikah, tiba-tiba dapet undangan (masih mending sih dapet undangan) kalo tiba-tiba ada pemberitahuan di kronologinya memajang kalo dia mau menikah, lebih parah lagi tau-tau dia pajang foto pernikahannya, rasanya itu luar biasa deh. katanya dengan seulas senyum ketabahan dibibirnya
patah hati lagi? kataku menatap lekat wajahnya
tidak, hanya saja rasanya aku terjebak narasi dan alur yang sama.
benarkah? lantas sudah ketemu jalan keluarnya? kataku sembari menuangkan minum ke gelas nya yang sudah kosong. entah apa dia memang benar-benar haus atau karena suasana hatinya yang membuat dia pucat walaupun sudah minum ke dua kalinya.
ah, siapapun tau jawabannya, jangan berharap ke manusia berharap hanya ke Allah pemilik seluruh hati yang ada dibumi ini.
aku tersenyum mendengar ia mendeklarasikan kembali kata-kata itu.
sudah lah, aku bosan mendengar celetukan si A, si B menginginkan aku untuk menjadi pendamping hidupnya. katanya kembali
tapi ujung-ujungnya aku yang kemudian berharap mereka benar-benar menginginkanku yang akhirnya ditinggal nikah kembali. tambahnya dengan wajah yang mulai kusut.
sabarlah, kalo jodoh pasti akan bertemu dan ia akan bertamu. bener gx? kataku sedikit menggodanya
iya sih, tapi kapan? tanyanya
eh, eh, mulai nanya. kalo aku tau jawabannya aku bakal ngasih tau kamu rin. kataku menatapnya kembali
sekarang aku tanya sudah berapa persen kamu siap untuk menikah? lah sekarang aja kuliahmu belum beres-beres to?
ya sudah ah, aku capek katamu kembali memulai menutup pembicaraan.
aku hanya tersenyum menatap mu penuh tanya. berharap kau tak terlalu berharap kembali pada manusia.
Rabbi pertemukan ia dengan jodoh terbaik. ^_^
yuk berharap ke segala pemberi harap
jangan berharap ke orang yang hanya memberi harap tapi tak bisa memnuhi segala harap
yakin kan hanya kepadaNya, semua kehidupanmu.
Comments
Post a Comment