Karena cintamu yang tulus, ibu





Kasih ibu kepada beta
Tak terkira sepanjang waktu
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia...

Kkring..kring.. HP ku kembali berdering, 1 pesan diterima perlahan kubuka pesannya.
Dari abah, gimana kabarnya vi? Isi pesannya
Langsung ku mereply, alhamdulillah baik bah, Bah besok vivi pulang ya, balasku
Y, balas abah
Hanya dengan kata Y abah selalu mengakhiri pesannya. Aku sebenarnya kesal dengan jawaban seperti itu.
..........
4 jam kutempuh perjalanan dengan menggunakan bis. Sesampainya dirumah...........
Assalamualaykum, mah, bah vivi pulang,
Tak ada yang jawab salamku, hanya ada adikku yang kecil dirumah sedang asyik dengan tontonannya.
Abah, mamah kemana dek?
Gx tau teh, lagi pergi kayaknya.
Ya teteh tau, tapi pergi kemana? Tanyaku lagi sambil mencubit pipinya
Ih teteh ini loh ganggu aku terus, udah ah sana. Rengeknya
Yeeee gx kangen apa teteh pulang? Kataku sambil masuk kekamar
Hanya diam tak menjawab.
----------------
2 jam kemudian
Teteh udah nyampe di?
Udah, tuh lagi dikamarnya. Jawab adikku
Mendengar suara abah dan mamah, aku langsung menghambur keluar dan menyambut nya.
Jam berapa nyampe?
Barusan bah, emang abis dari mana bah? Mah?
Oh dari kebun. Udah makan belum cepet makan dulu. Perintah abah
Iya bah, jawabku
Iya makan, nanti kalo udah selesai makan, bantu mamah masak ini nih. Ikan dan sayur. Lanjut mamah
Siap mah.
.............................
Setelah selesai masak, aku pun bergegas mandi, cuaca dikampung membuatku tak berani mandi lama-lama karena  air yang dingin mebuatku tidak betah untuk berlam-lama dikamar mandi.
Setelah shalat magrib dan mengaji bersama kami berkumpul diruang TV, disela-sela perbincangan abah menayakan aktivitas kuliahku.
Gimana kuliahnya? Lancar? Tanya abah
Ya, bah. Oya bah besok ada acara dikampus dan harus bayar registrasinya 2 juta.
Ketika mendengar itu wajah si mamah langsung mendadak berubah.
Hem, uang lagi, uang lagi, udah lah gx usah kulia-kuliah. Kerja aja, toh temen-temen kamu juga gx ada yang kuliah. Kita itu orang gx punya jadi jangan pengen sok sok an. Sela mamah sambil beranjak dari ruang TV menuju kamar.
Deg. Aku hanya bisa diam jika mamah sudah berkata seperti itu. Yah memang awalnya aku juga berfikir sseperti itu tidak akan kuliah. Tapi karena dorongan dari kakak dan abahaku yang sangat kuat dan antusias akupun akhirnya melanjutkan pendidikan ku di salah satu perguruan tinggi swasta dilampung.
Udah sabar, insyaallah ada. Rizki itu Allah yang ngatur. Ya kan teh? Abah mencoba menguatkan aku
Iya bah. Aku pun segera beranjak untuk masuk kekamar
Abah hanya termenung diruang TV bersama adikku yang asyik dengan tontonan TV tanpa menghiraukan yang terjadi,
Sesampainya dikamar aku hanya bisa menangis, bukan keinginan aku untuk kuliah. Giliran ada kebutuhan kuliah malah marah-marah seharusnya mikir dong, ruttukku penuh dengan emosi
----------------
Keesokan pagi
Teh bangun, udah siang. Panggil abah diluar kamar.
Aku bangun masih penuh dengan emosi, hanya diam tak menyahut panggilan abah.
Aku lebih diam ketika aku bertemu dengan mamah.
Bantu mamah masak, katanya
Aku hanya diam dan masuk kamar.
Sifat ku yang sama dengan mamah membuatku tidak terlalu nyaman. Sehingga aku selalu menceritakan keadaan ku kepada abah.
Karena tidak libur panjang siang harinya aku harus pulang lagi kekosanku. Berat rasanya karena aku belum berbaikan sama mamah, tapi keegoisan antara mamah dan aku yang membuat ku tetap diam, bahkan aku tidak pamitan kepada mamah. aku hanya pamitan dengan abah yang saat itu mengantar aku ketempat pemberhentian bis, ditengah perjalanan kemudian abah menyampaikan sesuatu.
Semalem si mamah nangis pusing mikirin duit untuk teteh, si mamah minta maaf katanya udah ngomong kayak gitu. Kan teteh juga tau mamah kayak gitu kalo lagi kesel
Aku hanya terdiam mendengar cerita abah
Ah biarkanlah, aku gx peduli.
Teteh udah maafin mamah kan?
hanya diam
Kemudian abah melanjutkan ceritanya, mamah tuh sayang banget sama teteh, Cuma mamah lagi pusing si adek juga lagi mau jalan2 dan butuh uang banyak.
Tak terasa aku sampai juga ditempat pemberhentian bis, nih bekel teteh, tadi mamah yang nyiapin.
Ini juga uangnya untuk registrasi dan jajan teteh. Nanti kalo kurang sms abah ya teh.
Tak lama bis nya berhenti dan aku langsung pamit dengan abah, dan langsung masuk dalam bis.
Tak terasa cairan bening itu menetes dari mataku. Ingin rasanya aku kembali kerumah dan memeluk mamah, tapi itu gx mungkin. Bis terus melaju dengan cepat tanpa memperhatikan keadaan sekitar, padahal hari itu jalanan sangat licin.
Tak lama kemudian HP ku bunyi kembali, 1 pesan masuk,
Teh maafin mamah ya, hati-hati dijalan yah teteh, mamah sayang teteh. Isi pesannya
Aku terlalu malu untuk menjawab pesan itu, malu dengan sikapku, entah lah aku hanya terisak dan menyesali keadaan. Andai waktu bisa diulang. Fikirku
Dan aku menyesal yang telah membuat mamah menangis karena sikapku, tapi Mamah selalu punya cara tersendiri untuk mengungkapkan sayangnya,
Hanya menanti untuk kembali pulang dan memeluknya..


Duhai ibu,
Dirimu  mu laksana mentari yang selalu menyinari
Yang selalu memberi, dan tak pernah berharap kembali

Ibu,
Kasihmu tak seperti ombak yang bergolak pasang surut,
Tapi kasihmu laksana sungai yang terus mengalir dan tak pernah berhenti mengalir

Ibu,
Dalam marahmu, aku merasakan kelembutanmu
Dalam diamu aku merasakan kasih sayang mu
Dalam doamu selalu ada keinginanku
Dalam hatimu tersimpan rapi namaku,
Kaulah ibu ku dan kau lah segalanya bagiku

Untukmu ibu,
Yang selalu dihatiku,
Aku tau
Aku takkan pernah bisa membalas semua yang tlah kau beri untukku
Dan aku tau kau tak pernah berharap untuk itu semua, kau hanya berharap melihat ku bahagia,
Sangat mulia.


Comments

Karya Lainnya

Sayap Patah

Secangkir Harapan

Penerimaan